Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri

Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Watampone memprotes kebijakan pihak kampus yang memotong beasiswa mahasiswa Rp200.000 per orang. Jumlah mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ini sebanyak 370 orang. Jumlah beasiswa yang diterima sebanyak Rp1,2 juta per orang. Namun, karena adanya pemotongan, mahasiswa hanya menerima Rp1 juta per orang. Mahasiswa mengecam pihak kampus karena kebijakan itu diakui diambil tanpa alasan yang jelas. Mahasiswa menggelar unjuk rasa kemarin untuk meminta pihak kampus membatalkan pemotongan itu.

Ketua Forum Mahasiswa STAIN Zainal mengatakan, pemotongan itu dilakukan tanpa pemberitahuan kepada mahasiswa terlebih dulu. Dalam tuntutannya, mahasiswa juga menuntut pihak kampus transparan mengumumkan nama-nama mahasiswa yang menerima beasiswa. Ditengarai, adaoknum mahasiswa yang menerima beasiswa lebih dari satu kali, padahal masih ada mahasiswa yang belum pernah menerima.

Mahasiswa juga mempertanyakan penundaan pencairan dana beasiswa pada Juli 2011 hanya karena ada protes dan demo dari mahasiswa. Sampai sekarang, beasiswa tersebut belum cair. Informasi yang diperoleh, dalam dua pekan terakhir, sudah empat kali mahasiswa STAIN melakukan unjuk rasa. Pembantu Ketua III Bidang Kemahasiswaan STAIN Muhammad Farid mengatakan, pemotongan beasiswa itu sudah disepakati mahasiswa penerima.

Saat nama mahasiswa tercantum sebagai penerima, pemotongan itu sudah diberitahukan. Alasan pemotongan itu akan digunakan untuk kegiatan unit kegiatan mahasiswa (UKM). Dia menilai pemotongan itu wajar karena dari 500 mahasiswa yang di-usulkan menerima beasiswa,hanya 370 yang diterima. “Ini kebijakan kampus,makanya kami potong,”ujar dia.

Terkait penundaan pencairan beasiswa mahasiswa,dia mengaku terpaksa melakukan itu karena mahasiswa dinilai melakukan aksi yang berlebihan. “Bagaimana mau dicairkan dananya kalau demo terus. Orang sudah sibuk mengurus dananya, malahan didemo. Makanya pencairan ditunda,” katanya.

Sementara itu, mahasiswa di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Watampone di Jalan Pramuka, nyaris terlibat bentrok, kemarin. Senat Mahasiswa dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) nyaris terlibat baku hantam terkait pelatihan Darul Arqm Dasar (DAD). Pekan lalu, kedua kubu ini bentrok.

Senat menilai, pelatihan DAD me-nyalahi aturan karena tidak melalui pemberitahuan terlebih dahulu.Ketua Senat Ronal Saputra menilai kegiatan DAD ini ilegal, sementara IMM lewat salah satu panitianya, Usman, mengaku, senat tidak memiliki hak melarang DAD karena pelatihan ini mendapat persetujuan Pengurus Pusat Muhammadiyah. Pembantu Ketua Bidang Kemahasiswaan STKIP Hasanuddin mengatakan, pihaknya akan memediasi kedua kubu untuk mencari solusi terbaik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel