Para Penjual Air keliling di Pasar Johar

Hidup semakin sulit bagi rakyat kecil termasuk bagi para penjual air keliling di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah. Mereka bukan orang malas. Di pagi buta pukul 03.00, mereka sudah berbaur dalam riuh rendahnya aktivitas pedagang di pasar tertua dan terbesar di Semarang itu. Namun penghasilan mereka tak mampu mengejar kebutuhan hidup.

"Masih enak zamannya Pak Harto. Selain bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga kami juga masih bisa menabung," Ungkap Yamto (55), salah seorang penjual air di Pasar Johar, Selasa (6/3/2012).

Satu gerobak berisi sepuluh kaleng masing-masing berisi 18 liter. Yamto dan kawan-kawannya mengambil air dari kolam penampungan di Kauman Tengah, yang jaraknya kira-kira 500 meter dari Pasar Johar. Untuk satu gerobak ia harus membayar Rp 2.000 untuk kas RT di tempat ia mengambil air. Sementara satu kalengnya ia jual ke pelanggan Rp 1.000.

Dulu, dari penghasilannya menjual air itu Yamto bisa menyekolahkan tiga anaknya hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Tetapi sejak Reformasi 1998, penghasilannya makin tak menentu. Waktu lulusan anak saya yang keempat kemarin, saya malah tombok dua juta. Ya terpaksa utang lah. Soalnya hasil jual air sekarang hanya cukup buat beli beras," jelasnya.

Ayah empat orang anak ini adalah perantauan dari dusun Tengklik, Watubonang, Kabupaten Sukoharjo. Ia mengaku sudah hampir 27 tahun menjalani profesi sebagai penjual air keliling. Yamto mendapati pekerjaan itu dari ayahnya, Sumeto Diharjo. Karena lanjut usia Sumeto mewariskannya kepada Yamto.

Ayah Yamto juga demikian, mewarisi profesi itu dari kakek Yamto. Jadilah ia generasi ketiga penjual air keliling. Sekitar 15 warung di pasar Johar saat ini menjadi pelanggannya. Warungnya makin banyak, tapi penghasilan kami tambah susut karena mereka (warung) ambilnya juga sedikit-sedikit karena sepi," jelasnya.

Beruntung, Yamto mempunyai istri yang ulet. Di desa, istrinya berjualan kecil-kecilan. Kebutuhan rumah tangganya juga ditopang hasil panen dari sepetak sawah yang ia sewa dari tetangganya.

Entah sampai kapan Yamto akan menjalani profesi sebagai penjual air keliling. Tapi yang jelas, ia tak berniat mewariskan profesinya itu ke anak-anaknya. Ia hanya berharap Tuhan selalu memberinya kesehatan. "Selama hayat masih di kandung badan, saya akan jalani pekerjaan ini dengan ikhlas," pungkasnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel