Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia

Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) menilai arus modernisasi saat ini membuat pudar nilai tradisi budaya Tionghoa Peranakan.

"Berbagai usaha dan upaya kami lakukan untuk mencegah hal ini. Aspertina makin eksis kenalkan budaya Tionghoa Peranakan kepada masyarakat Indonesia, khususnya anak muda," kata Andrew Susanto, Ketua Aspertina, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/10/2013).

Menurut Andrew, kecintaan anak muda Tionghoa terhadap budaya nenek moyang, saat ini semakin terkikis. Sebagai kaum muda, seharusnya dapat melanjutkan dan terus memperkenalkan budaya tersebut kepada orang banyak.

Dia memberi contoh sederhana tentang kian pudarnya budaya Tionghoa di kalangan anak muda. Seperti di setiap acara pernikahan orang Tionghoa, mayoritas menggunakan gaun dan jas berwarna putih.

Menurutnya, itu merupakan budaya Barat. Sedangkan jika melihat tradisi Tionghoa, pernikahan identik dengan warna merah, lambang kebahagiaan. "Maka itu, sedikit demi sedikit, saya ingin membagikan pemahaman tentang pentingnya memegang tradisi Tionghoa sebagai identitas budaya, sekaligus juga memperkaya ragam budaya Indonesia," ujarnya.

Sebab itu, untuk kembali meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai tradisi tersebut, Aspertina akan menyelenggarakan Kondangan Peranakan Tionghoa 2013, a Cultural Fashion Show pada 15 November 2013 mendatang. "Aspertina memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan kesadaran budaya pada generasi muda," kata Andrew.

Acara tahunan Kondangan Peranakan Tionghoa ini diadakan sebagai bentuk pengenalan dan pelestarian budaya peranakan Tionghoa di Indonesia.

Pada peragaan busana tahun ini, Aspertina akan menghadirkan delapan desainer senior ternama Indonesia yaitu Poppy Darsono, Samuel Wattimena, Itang Yunasz, Carmanita, Afif Syukur, Hengky kawilarang, Ferry Sunarto dan Geraldus Sugeng.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel